Hanya Cerita
Raka
Bab 1

Di Bawah Beringin

Pada suatu malam, langit gelap tanpa bintang. Guratan awan terlihat tegas bagai lukisan. Samar-samar sinar rembulan menembus celah awan yang bergerak perlahan.

Di bawah pohon beringin yang daunnya jarang dan kering karena kemarau, duduk seorang lelaki yang tampak telah lanjut usia.

Ia duduk bersila di atas selembar tikar pandan yang sudah kusam. Tubuhnya kurus, tetapi tidak terlihat ringkih. Bahunya masih tegap meski sedikit membungkuk karena usia. Kulit wajahnya gelap terbakar matahari, dipenuhi garis-garis keriput yang dalam di sekitar mata dan kening.

Rambutnya panjang hingga hampir menyentuh bahu. Sebagian besar telah memutih, sementara beberapa helai hitam masih tersisa di antara uban yang kusut. Rambut itu diikat longgar di belakang kepala dengan seutas kain hitam.

Janggut tipis berwarna putih keabu-abuan tumbuh tidak beraturan di dagunya.

Ia mengenakan baju lurik lengan panjang berwarna cokelat tua. Warnanya telah pudar dimakan usia. Pada bagian siku terdapat tambalan kain yang warnanya berbeda. Beberapa kancing kayunya telah hilang sehingga bagian atas bajunya terbuka, memperlihatkan dada kurus dan tulang selangka yang menonjol.

Selembar kain hitam dililitkan di pinggangnya, menutupi celana longgar berwarna gelap yang ujungnya berhenti sedikit di atas mata kaki.

Kakinya telanjang.

Tumitnya pecah-pecah dan penuh debu.

Di sebelah kanannya tergeletak sebuah tongkat kayu sepanjang hampir satu depa. Bentuknya tidak lurus sempurna. Permukaannya hitam kecokelatan dan mengilap pada bagian yang biasa digenggam, seolah tongkat itu telah menemaninya berjalan bertahun-tahun.

Di sebelah kiri terdapat sebuah kendi tanah kecil, sebuah kantong kain, dan beberapa potong ubi yang diletakkan di atas daun pisang.

Di hadapannya menyala api kecil.

Tidak cukup besar untuk menerangi seluruh tempat itu. Cahaya jingganya hanya menjangkau beberapa langkah dari batang beringin.

Di luar lingkaran cahaya tersebut, segala sesuatu kembali menjadi hitam.

Lelaki tua itu memasukkan sepotong ranting kering ke dalam api.

Krek…

Ujung ranting segera menyala.

Ia mengangkat kedua tangannya, mendekatkannya pada api, kemudian menggosok kedua telapak tangannya perlahan.

Padahal malam tidak terlalu dingin.

Kemarau panjang masih menyisakan hawa panas dari tanah.

Sesekali angin datang dari arah persawahan yang telah mengering. Angin itu membawa bau tanah, jerami, dan debu.

Daun-daun beringin bergerak.

Srrr…

Srrr…

Lelaki tua itu mendongakkan kepala.

Matanya menyipit memandang sela-sela ranting di atasnya.

Tidak banyak daun yang tersisa. Sebagian telah menguning. Sebagian lagi kering dan menggulung pada ujungnya.

Satu helai daun terlepas.

Berputar-putar sebentar sebelum jatuh di dekat api.

Lelaki tua itu mengambilnya.

Ia memperhatikan daun tersebut cukup lama, lalu meremasnya dengan satu tangan.

Kres…

Daun itu hancur menjadi serpihan.

Ia membiarkan serpihannya jatuh.

Pandangan lelaki tua kemudian beralih ke jalan tanah yang membentang di hadapannya.

Jalan itu sempit.

Di musim hujan, mungkin dua pedati akan kesulitan berpapasan di sana. Namun kemarau telah membuat permukaannya keras dan retak-retak. Bekas roda pedati lama masih terlihat di beberapa bagian, meski hampir tertutup debu.

Tak ada siapa-siapa.

Lelaki tua kembali menunduk.

Ia mengambil kendi, membuka penutupnya, lalu menuangkan sedikit air ke dalam cangkir bambu.

Baru saja cangkir itu menyentuh bibirnya—

ia berhenti.

Kepalanya sedikit terangkat.

Ada suara.

Sangat samar.

Ia menunggu.

Tidak terdengar lagi.

Lelaki tua meminum airnya.

Kemudian—

Tak.

Ia berhenti lagi.

Tak…

Tak…

Kali ini jelas.

Suara langkah kaki.

Datang dari ujung jalan sebelah timur.

Lelaki tua meletakkan cangkirnya.

Ia tidak berdiri.

Tidak pula mengambil tongkat.

Hanya matanya yang memandang lurus ke arah kegelapan.

Tak…

Tak…

Tak…

Suara itu terdengar tidak teratur.

Kadang cepat.

Kemudian melambat.

Berhenti sebentar.

Lalu terdengar lagi.

Seperti langkah seseorang yang kelelahan.

Beberapa saat kemudian, sebuah bayangan muncul di ujung jalan.

Mula-mula hanya berupa bentuk hitam yang bergerak di antara kegelapan.

Semakin dekat, bentuk itu perlahan menyerupai manusia.

Seorang lelaki.

Usianya jauh lebih muda daripada lelaki yang duduk di bawah beringin.

Barangkali belum mencapai tiga puluh tahun.

Tubuhnya tinggi dan cukup tegap, meski saat itu kedua bahunya turun karena kelelahan. Rambutnya hitam, agak panjang, basah oleh keringat dan menempel di kening.

Ia mengenakan kemeja katun berwarna putih gading yang sudah berubah kusam oleh debu perjalanan. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Pada bagian kerah terdapat bekas keringat yang menggelap, sementara salah satu sisi bajunya terlepas dari celana.

Di luarnya ia mengenakan rompi tipis berwarna cokelat tanah. Salah satu kantong rompi tampak menggembung, entah berisi apa.

Celananya berwarna hitam kecokelatan, longgar pada paha dan menyempit di bagian bawah. Ujung celana itu dimasukkan ke dalam sepatu kulit berwarna cokelat tua.

Sepatu tersebut tampaknya pernah bagus.

Kini permukaannya penuh debu. Bagian depannya lecet, dan sol sebelah kiri mulai terlepas sehingga menimbulkan suara kecil setiap kali ia melangkah.

Tak…

Sret…

Tak…

Sret…

Di bahu kirinya tergantung sebuah buntalan yang dibungkus kain kelabu.

Tidak terlalu besar.

Namun dari caranya membawa, buntalan itu tampak cukup berat.

Sebuah tali melingkari kain pembungkusnya beberapa kali sebelum diikat dengan simpul yang rapat.

Lelaki muda itu berjalan sambil sedikit membungkuk.

Sesekali ia memindahkan buntalan dari bahu kiri ke kanan.

Napasnya terdengar berat.

Ketika cahaya api mulai terlihat dari kejauhan, langkahnya melambat.

Ia berhenti.

Matanya menatap nyala kecil di bawah pohon beringin.

Kemudian kepada sosok yang duduk di sana.

Tangannya spontan mencengkeram tali buntalan.

Lelaki tua melihat gerakan itu.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Lelaki muda masih berdiri di luar jangkauan cahaya.

Mungkin sepuluh langkah dari api.

Keduanya saling memandang.

Tidak ada sapaan.

Hanya suara api yang sesekali memecah keheningan.

Krek…

Lelaki tua mengambil sepotong ubi dari atas daun pisang.

Ia meniup permukaannya, lalu menggigit sedikit.

Lelaki muda akhirnya melangkah mendekat.

Satu langkah.

Kemudian berhenti.

“Permisi…”

Suaranya serak.

Lelaki tua mengunyah ubi dengan tenang.

“Hmm.”

“Boleh saya bertanya?”

“Kalau hanya bertanya, tidak perlu minta izin.”

Lelaki muda tampak sedikit bingung mendengar jawaban itu.

Lelaki tua mengambil ubi sekali lagi.

“Kalau hendak meminta makanan, baru sebaiknya minta izin.”

Lelaki muda tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya ketegangan di wajahnya sedikit mengendur.

“Saya tidak hendak meminta makanan.”

“Syukurlah.”

Lelaki tua menunjuk ubi yang tersisa.

“Karena punyaku tinggal dua.”

Lelaki muda tertawa kecil.

Namun tawanya segera berubah menjadi batuk.

“Uhuk… uhuk…”

Ia membungkuk sambil memegang dada.

Lelaki tua melirik kendi.

“Air?”

Lelaki muda ragu.

Kemudian mengangguk.

“Kalau tidak merepotkan.”

Lelaki tua mengambil cangkir bambu dan menuangkan air dari kendi.

Ia meletakkannya di atas tanah.

Tidak menyerahkannya langsung.

Lelaki muda memperhatikan cangkir itu.

Kemudian memperhatikan lelaki tua.

Baru setelah beberapa detik ia mendekat.

Kini wajahnya benar-benar terlihat oleh cahaya api.

Kulitnya sawo matang. Rahangnya tegas, tetapi pipinya sedikit cekung karena kelelahan. Ada luka kecil yang telah mengering di dekat alis kanan. Bibirnya pecah-pecah.

Yang paling menarik perhatian lelaki tua adalah matanya.

Mata lelaki muda itu tidak pernah diam.

Ketika mengambil cangkir, ia melihat pohon.

Jalan.

Ladang.

Kembali ke jalan.

Kemudian kepada lelaki tua.

Seolah setiap bayangan bisa berubah menjadi ancaman.

Ia mengambil cangkir.

“Terima kasih.”

Lelaki tua hanya mengangguk.

Air itu diminumnya perlahan pada tegukan pertama.

Kemudian cepat.

Hampir seluruh isi cangkir habis.

“Pelan,” kata lelaki tua.

Lelaki muda menurunkan cangkir.

“Sudah lama tidak minum.”

“Dari mana?”

Lelaki muda mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

“Jauh.”

Lelaki tua mengangguk.

Ia tidak bertanya lagi.

Justru itu yang membuat lelaki muda sedikit heran.

Biasanya orang akan bertanya: jauh itu dari mana?

Tetapi lelaki tua tersebut kembali sibuk dengan ubinya.

Lelaki muda mengembalikan cangkir.

“Terima kasih.”

“Hmm.”

Ia berdiri beberapa saat.

Lalu melirik tikar.

Lelaki tua masih tidak menawarkan tempat.

Akhirnya lelaki muda bertanya,

“Boleh saya duduk sebentar?”

Lelaki tua menggeser kantong kain di sampingnya.

“Tanah bukan milikku.”

Lelaki muda tersenyum lagi.

Ia menurunkan buntalan dari bahunya dengan hati-hati.

Bukan melemparkannya.

Bukan pula sekadar meletakkannya.

Ia berjongkok lebih dahulu, kemudian menaruh buntalan itu perlahan di atas tanah, tepat di sebelah kaki kanannya.

Baru setelah itu ia duduk.

Kedua kakinya diluruskan ke arah api.

Ia mengembuskan napas panjang.

“Haaah…”

Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan.

Lelaki muda hanya memandangi api.

Lelaki tua makan.

Setelah selesai, ia membersihkan jemarinya pada daun pisang.

“Mau?”

Ia menyodorkan ubi terakhir.

Lelaki muda melihat ubi itu.

Kemudian menggeleng.

“Tidak usah.”

Perutnya berbunyi.

Krrruuuk…

Lelaki tua mengangkat alis.

Lelaki muda menunduk malu.

“Perutmu rupanya berbeda pendapat.”

Lelaki muda tertawa kecil.

Kali ini lebih tulus.

Ia menerima ubi tersebut.

“Terima kasih.”

“Jangan terima kasih dulu. Belum tentu enak.”

Lelaki muda menggigitnya.

Mengunyah.

“Enak.”

“Berarti kau memang lapar.”

Lelaki muda kembali tertawa.

Beberapa saat suasana terasa lebih ringan.

Namun lelaki tua tetap memperhatikannya dari sudut mata.

Cara pemuda itu makan terlalu cepat.

Cara ia minum seperti seseorang yang sudah lama berjalan.

Debu pada celananya mencapai hampir lutut.

Ada lumpur kering pada bagian belakang sepatu.

Dan luka kecil di dekat alisnya bukan luka akibat terantuk ranting.

Luka itu terlalu lurus.

Seperti bekas pukulan benda keras.

Namun lelaki tua tidak bertanya.

Belum.

“Siapa namamu?” tanyanya kemudian.

Lelaki muda berhenti mengunyah.

Sesaat saja.

Sangat singkat.

Tetapi lelaki tua melihatnya.

“Raka.”

“Raka?”

“Iya.”

Lelaki tua mengangguk.

“Nama yang bagus.”

Raka melanjutkan makan.

“Kalau Bapak?”

Lelaki tua menatap api.

Orang-orang pernah memanggilnya dengan banyak sebutan.

Namun sudah lama sekali seseorang bertanya namanya dengan cara sesederhana itu.

“Jati.”

Raka mengangguk.

“Mbah Jati?”

Lelaki tua meliriknya.

“Kenapa pakai Mbah?”

Raka sedikit gugup.

“Ya… karena…”

“Karena aku tua?”

Raka tidak menjawab.

Jati mengusap janggutnya.

“Memang benar.”

Raka tertawa.

Jati ikut tersenyum tipis.

Angin bertiup lagi.

Nyala api miring sesaat.

Raka merapatkan rompinya.

Jati memperhatikan buntalan di samping kaki pemuda itu.

Namun hanya sesaat.

Ia segera mengalihkan pandangan.

“Raka.”

“Iya?”

“Kalau sudah selesai makan, tidurlah sebentar.”

Raka memandangnya.

“Di sini?”

“Kalau kau menemukan penginapan, aku ikut.”

Raka melihat sekeliling.

Gelap.

Ladang.

Pohon.

Jalan kosong.

Ia tersenyum kecil.

“Benar juga.”

Jati berbaring perlahan di atas tikar. Kantong kain kecil dijadikannya bantal, sementara tongkat kayunya tetap berada dalam jangkauan tangan.

Raka masih duduk di dekat api.

Ia memandangi sisa ubi di tangannya.

Kemudian buntalan kelabu di sampingnya.

Tangannya menyentuh simpul tali pada buntalan itu.

Diam.

Lama.

Seolah ada keinginan untuk membukanya.

Namun akhirnya tangannya ditarik kembali.

Jati melihat semuanya.

Matanya memang terpejam.

Tetapi ia belum tidur.

Dan Raka tidak mengetahui itu.

Malam semakin larut.

Awan terus bergerak menutupi bulan.

Api perlahan mengecil.

Dua orang asing beristirahat di bawah pohon beringin tua.

Yang satu menyembunyikan sesuatu di dalam buntalan.

Yang lain menyembunyikan sesuatu di balik diamnya.

Dan malam masih terlalu panjang untuk memaksa keduanya berkata jujur.